memories (Mini Story)

MEMORIES (MINI STORY)

Cast :

~Yesung

~Shin EunHwa

Author : Sayyidah Vazhreen

A/N: anyeong.. aku buat cerita ini terinspirasi dari sebuah novel yang menurutku luar bias.. hehehe.. cerita ini hampir nyata.. #hampir yaaaadengan keadaan sekitar, *ceilah, jadi aku post disini.. semoga suka…

= = = = = =

Backsound : Super Junior- Memories

Aku melihat seorang namja membonceng seorang yeoja kecil dengan sepedanya. Namja kecil itu bersemangat sekali mengayuh sepedanya melewati sebuah jalan setapak panjang. Sementara, si yeoja kecil hanya tersenyum kecil dalam boncengan itu sambil kuat-kuat memegangi dua buah perahu kertas yang ada ditangannya.

Beberapa detik berlalu, kemudian namja kecil tadi menghentikan sepedanya dan segera turun, disusul oleh si yeoja kecil. Ia menyandarkan sepeda tak berpenyangga itu di sebuah pohon. Lalu, ia dan si yeoja tdi berlri-lari kecil ke sebuah sungai lebar yang memanjangdi depan mereka. Setelaah memberikan sebuah perahu kertas kepada namja tadi, yeoja itu memejmkan matanya. Tangannya memeluk perahu kertasnya di depan dada. Samar-samar, ia membisikkan sesuatu, tapi aku bisa mendengrnya dengan jelas “Aku ingin bisa melihat langit sore bersama Yesung oppa. Perahu kertasku, sampaikan harapan ini kepada Tuhan, ya, biar dia mendengarku,” ucapnya, lalu membuka mata.

Kini, namja itu juga ikut menutup mata. Ia menggenggam perahu kertasnya sambil membisikkan sesuatu, tapi kali ini tak bisa kudengar. Kemudian, ia membuka matanya, lalu tersenyum manis kepada si yeoj. “sudah siap? Ayo kita alirkan perahu kertas kita.” Katanya sambil mengajak si gadis berjongkok.

Pelan-pelan, mereka menghanyutkan dua perahu kertas itu dalam aliran sungai. Perahu itu begitu cepat menyerap air hingga kehilangan keseimbangan.keduanya sama-sama terlihat ringkih terbawa arus ke sana kemari. Dua perahu itu sama-sama mengandalkan arus air sebagai rodanya dan terpaan angin sebagai kemudinya.

Aku tahu pasti, setiap hari sepulang sekolah, anak laki-laki dan yeoja kecil itu tak pernah absen mengunjungi sengai ini. Setiap hari, anak laki-laki itu membonceng yeoja itu dengan sepedanya. Masih berseragam merah putih, atau berseragam pramuka, mereka berlari-lari ke sungai. Setiap har, mereka mengucapkan satu harapan yang berbeda-beda, lalu mengalirkan perahu kertas mereka di aliran sungai. Dan, mereka percaya, perahu-perahu itu akan menympaikan harapan-harapan mereka kepada Tuhan.

Selama hampir enam thun sejak kelas 2 SD, Sungai  menjadi tempat kenangan dua bocah itu. Sungai yang menjadi tempat mereka bermain-main, atau sekedar menentramkan hati mereka ketika mereka gundah.

Rasanya, aku mengenal baik si bocah laki-laki pengayuh sepeda itu. Namanya Yesung. Dia adalah tetangga si yeoja kecil yang pandai membuat perahu kertas. Dialah yang mengajari  yeoja itu melipat-lipat selembar kertas menjadi sebuah perahu sederhana. Mereka berdua sangat akrab, bahkan yeoja tersebut sudah menganggap Yesung seperti Oppa kandungnya sendiri.

Yesung hanya tinggal dengan Ibunya di Indonesia. Ayahnya tinggal di seoul, korea selatan karena ayahnya mempunyai pekerjaan disana. Walaupun jauh dari ayahnya, yesung sudah mendapat perhatian yang berlebih dari Ibunya. Im Bokyung ahjumma memang seseorang yang penuh perhatian. Beliau sayang sekali kepada yesung, begitu juga dengan Yesung yang sangat menghormatinya.

Beberapa bulan setelah kenaikan ke kelas VI SD, Im Bokyung ahjumma merencanakan kepindahannya dengan Yesung ke seoul. Beliau ingin mengajak Yesung tinggal dengan Ayah dan keluarga besarnya di seoul dengan alasan bahwasebentar lagi yesung akan mmasuki masa pra-remaja.

Si yeoja kecil mendengar berita kepindahan yesung itu. Namun, ia tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika harus berpisa dengan yesung, padahal mereka sudah sangat akrab. Seharian, gads itu marah dan kesal kepada semua orang. Saat bel pulang sekolah berdentang pun, ia tak mau pulang. Ia malah menangis terisak-isak di mejanya.

Sekolah sudah sepi. Diam-diam, yesung duduk di sebelah yeoja itu. Ia sibuk melipat-lipat dua lembar kertas di atas meja. Ya, ia membuat dua buah perhu kertas. “Eunhwa-ah, mungkin ini perahu kertas terakhir kita. Kau mau membantuku mengalirkannya di Sungai?”

Pelan-pelan, yeoja itu mengangkat kepalanya dari tas meja. Wajahnya basah oleh air mata. Dia meraih dua buah perahu keras yang sudah dibuat yesung itu. Yesung pun mengajaknya keluar dari kelas dan memboncengnya ke Sungai. Perjalanan ke sungai yang biasanya hanya memakan waktu beberapa menit, kini terasa sangat lama. Dalam boncengan itu, si yeoja tersebut masih tetap terisak-isak sambil meremas dua buah perahu kertas yang ada di tangannya.

Sampai di depan aliran sungai yang bening, dua bocah itu bersamaan memejamkan mata dan memeluk perahu kertas mereka di depan dada. Sambil terisak-isak, yeoja tersebut membisikkan harapannya. “Perahu kertasku, sekarang aku izinkan kau membawa pergi Yesung Oppa.. tapi, saat aku sudah tumbuh dewasa nanti, tolong bawa dia kembali kemari.”

Yesung membuka kelopak matanya setelah membisikkan sebuah harapan. Begit juga dengan Eunhwa. Mereka bersamaan mengalirkan dua perahu kertas itu dengan berat hati. Sepertinya, mereka tak ingin melepaskan dua perahu kertas terakhir itu. Si yeoja kecil menoleh ke arah yesung, lalu mengusap matanya yang sembap. Ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada anak laki-laki itu. “Yesung oppa, Eunhwa pasti sangat merindukan oppa,” ucapnya sedih.

Yesung mengembangkan senyum termanisnya pada gadis itu. “Aku juga pasti akan sangat merindukan Eunhwa”, balasnya.

Eunhwa menghela nafasnya pelan. “yesung oppa ingat, duku oppa yang mengajari aku membuat perahu kertas, lalu kita mengalirkannya di sungai. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang menemaniku mengalirkan perahu kertas.:

“Tak apa eunhwa. Kau lihat, perahu kertas terakhir kita akan selalu mengarungi aliran sungai beriringan.” Ujar yesung, membuat gadis itu tersenyum.

Dua perahu itu masih mengalir beriringan. Keduanya akan terus mengalir sepanjang sungai. Sungai yang panjangnya 750 km, sama dengan panjang cahaya tampak warna merah, tapi dalam satuan nanometer. Karena itulah, kini, si gadis kecil itu suka sekali mengamati langit maghrib yang berwarna merah. Cahaya nampak warna merah yang panjangnya 750 nanometer itu selalu mengingatkannya pada sebuah sungai kenangan, sungai yang menjadi tempat yang sangat berharga bagi kedua anak manusia.

The end..

Readers.. gomawo udah baca yaa..

Tolong kasih comentar dong..

Comment kalian sangat berguna bagi author..

Gamsahammida ^^

2 thoughts on “memories (Mini Story)

Leave A Comment !!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s