At Least I Still Have You – Part 2

At Least I Still Have You – Part 2

Author : Theresia listy

Cast:

–         Lee Dong Hae (23 thn) – adik kelas Teukie yang malah jadi sahabat dekat Teukie n Hee Chul; orangnya perfect bgt deh… baca aja ceritanya, ok!

–         Park Jung Soo a.k.a Teukie (26 thn) – kakaknya Soo-Ra; orangnya bawel n mau menang sendiri tapi selalu perhatian sama adik dan juga sahabat-sahabatnya.

–         Soo-Ra (23 thn) – adiknya Teukie; orangnya simple bgt tapi kadang terkesan cuek.

–         Kim Hee Chul a.k.a Hee Chul or Chullie – sahabat dekat Teukie sekaligus pacar dari Ha Ae (sahabatnya Soo-Ra)

–         Figuran-figuran:

  •  Lee Sung Min – teman Teukie dkk
  • Han-Kyung – teman Teukie juga

 PS:

– Soo-Ra and Ha Ae belong to me and my unnie Tetty P.

– Super Junior member belong to SM Entertainment

 

 

 

– Endless Moment –

 

 2 tahun kemudian (05 July 200x)

(Soo-Ra’s p.o.v)

Aku tersenyum senang melihat pantulan wajah dan tubuhku di cermin besar yang ada di kamar Teukie. Sempurna ucapku dalam hati. Aku tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan kejadian perkenalanku dan Dong Hae lebih dari 2 tahun yang lalu. Dan hari ini tanpa terasa aku dan Dong Hae sudah berpacaran selama 2 tahun. Yup, hari ini adalah hari jadi kami yang ke-2.

Setelah yakin akan penampilanku, aku melangkahkan kaki dan duduk di ruang tamu, menunggu Dong Hae datang menjemputku. Kebetulan selama 3 hari ini, Teukie dan Hee Chul sedang melakukan sebuah penelitian di Pulau Jeju tentang bangunan kuno yang memiliki arsitektur yang bisa dibilang telah bertahan selama ratusan tahun. Jadi selama 3 hari ini aku akan bisa terbebas dari celotehan oppa-ku yang super duper cerewet itu.

Tingg… Tongg…

Ah, Dong Hae sudah tiba. Ia memang orang yang selalu tepat waktu setiap kali datang menjemputku untuk kencan. Rencananya hari ini kami berdua akan main seharian berkeliling kota Seoul. Aku buru-buru membuka pintu dan mendapatinya tersenyum sangat manis sambil menatapku.

‘Oppa… selamat hari jadi!!’ ujarku sambil berlari ke pelukannya dan mengecup lembut pipinya.

‘Selamat hari jadi juga, gadisku!!’ ujarnya tersenyum nakal sambil mempererat pelukannya ke tubuhku. ‘Huhmm… kau cantik sekali hari ini!!’

‘Ahhh, oppa hanya menggodaku saja… Oppa juga terlihat sangat tampan mengenakan pakaian yang kupilihkan untukmu.’ jawabku sedikit bangga karena pakaian yang Dong Hae kenakan adalah pakaian yang kubeli dari uang hasil jerih payahku sendiri.

‘Terimakasih gadisku… Siap untuk berangkat?’ tanyanya masih tidak mau melepaskan pelukannya.

‘Yee, oppa… tapi sebelum itu berhentilah dulu memelukku. Aku malu sekali, tahu…’ ujarku dengan suara yang manja.

‘Habis hari ini kau begitu menggemaskan sehingga aku ingin terus menerus memelukmu.’ serunya sambil mengecup kening dan pipiku.

Ternyata hari itu Dong Hae membawa motor besarnya yang berwarna silver yang berarti hari ini Dong Hae akan membawaku ke tempat yang agak jauh. Diam-diam aku tersenyum karena sudah hafal kebiasaannya itu. Ya, itu memang kebiasaannya. Dong Hae biasanya mengajakku berjalan atau naik bus jika kami hanya pergi nonton atau karaoke. Dan jika Dong Hae mebawa motornya seperti hari ini, maka kami mungkin akan pergi ke tempat yang agak jauh dari kota.

Sepanjang perjalanan, kudengar Dong Hae menyenandungkan lagu kami. Ya, ‘Why I Like U?’ adalah lagu kami berdua karena Dong Hae menggunakan lagu itu saat pertama kali ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku memeluknya erat sambil terkadang ikut menyenandungkan lagu itu pada bagian yang aku hafal liriknya.

Motor yang kami kendarai membelok ke kiri dan spontan aku tertawa…

‘Oppa… kau benar-benar membawaku ke pantai!!’ seruku dengan suara agak keras melawan bisingnya angina yang berhembus.

‘Tentu saja… aku kan selalu menepati setiap janjiku padamu!’ jawabnya tertawa.

Setelah memarkirkan motornya, Dong Hae menuntunku berjalan ke pantai. Saat tiba di tanah yang berpasir, kami sama-sama membuka sepatu dan mulai berjalan menyusuri pantai yang masih sepi ini. Dong Hae melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku dan aku juga melakukan hal yang sama dengan melingkarkan tanganku ke pinggangnya.

Kami berdua mulai membicarakan semua kenangan-kenangan selama 2 tahun membina hubungan ini. Mulai dari kencan pertama kami yang berantakan hingga hari ini.

Bayangkan saja betapa berantakannya kencan pertama kami 2 tahun yang lalu. Mulai dari pelayan ceroboh yang menumpahkan semangkuk sup panas ke gaunku *Dong Hae sampai marah-marah ke pelayan itu dan ia juga membelikanku gaun pengganti secara kilat – maksudnya Dong Hae sampai lari-lari ke butik yang ada di blok lain demi mencarikan gaun pengganti *, pertemuan Dong Hae dengan mantan temannya yang memusuhinya hingga sekarang, sampai dengan baju kami berdua yang basah kuyup akibat hujan dan tak ketinggalan kami berdua salah naik bus sehingga kami harus menunggu berdua di tengah hujan dalam sebuah boks telepon yang sangat sempit di suatu tempat agak terpencil di luar kota Seoul. Tapi untung saja tidak semuanya berantakan pada kencan pertama kami itu.

Dong Hae menciumku untuk pertama kalinya dalam boks telepon itu. Ciuman pertamaku pada kencanku yang pertama.

Kami berdua berteduh di dalam sebuah boks telepon sempit dengan pakaian yang sama-sama basah kuyup. Baru sebentar saja aku sudah mulai menggigil kedinginan. Dong Hae yang melihatku seperti itu dengan spontan langsung memeluk tubuhku dengan erat. Sesaat aku terkejut dan menatap wajahnya. Dong Hae ternyata juga sedang menatapku. Mata kami bertatapan sejenak seolah saling mencari sesuatu. Sebelah tangan Dong Hae terangkat ke pipiku untuk menggeser rambut basah yang melekat disana dan tiba-tiba saja Dong Hae sudah mencondongkan tubuhnya. Ia mengecup bibirku perlahan sambil menggumamkan kata cinta.

Dong Hae memandangku sekilas, seakan hendak mencari penolakan atas ciumannya itu didalam mataku, namun yang ia temukan hanyalah wajahku yang memerah bukan hanya karena kedinginan tapi juga karena malu. Kami berdua tertawa saat itu sampai Dong Hae kembali merengkuh wajahku dan menciumku lagi. Kami berciuman beberapa lama dan kemudian terdiam.

Ketika akhirnya taksi yang kami pesan tiba, Dong Hae mengatakan bahwa ia akan mengantarku pulang lebih dulu. Sepanjang perjalanan pulang itu kami berdua hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. Dong Hae memang terus memelukku dan menggenggam tanganku dengan erat, namun ia tetap tidak mengatakan apa-apa. Hanya ketika tiba dirumahku dan menyuruh taksi itu pergi, ia baru berbicara. Saat itu ia meminta maaf karena kencan pertama kami berantakan dan ia juga berjanji akan selalu ada untukku setiap saat. Untuk menjawab perkataannya, aku mengecup pipinya dan memeluknya dengan erat sebelum menyuruhnya segera pulang karena malam sudah agak larut. Aku ingat saat berjalan pergi, Dong Hae sempat tertawa dan mengucapkan kata ‘Yes’ beberapa kali lalu melenggang pergi sambil tetap tertawa.

Kencan kedua dan seterusnya hingga kencan kami hari ini selalu mebuatku terkesan. Dong Hae selalu dan selalu membawa suasana baru pada tiap kencan kami. Ia juga selalu memberiku banyak kejutan menyenangkan tiap kali bersamanya.

Pernah suatu kali aku marah besar padanya karena ia lupa meneleponku seharian penuh. Namun esok siangnya Dong Hae berdiri di depan kampusku dengan membawa banner besar bertuliskan, ‘Jongmal Mianhae, Soo-Ra… Saranghae Yongwonhi!!!’ Saat itu aku benar-benar tidak bisa menahan tangis haru melihatnya berbuat senekat itu. Parahnya lagi semua orang di kampusku tahu mengenai hal itu dan mereka membicarakanku hampir 2 minggu lamanya, membuatku merasa malu dan takut untuk masuk kuliah. *terjemahan: Benar-benar maaf, Soo-Ra… Mencintaimu selamanya!!’

‘Soo-Ra… bisa pejamkan matamu sebentar?’ tanya Dong Hae sambil mengeluarkan sehelai saputangan dari saku celananya.

‘Oppa… kau mau apa sih?’ tanyaku penasaran namun tetap menurutinya sementara ia mulai mengikatkan saputangannya menutupi mataku.

‘Hanya sebentar koq, tenang saja…’ ujarnya sambil mencium keningku.

Tiba-tiba Dong Hae mengangkatku dan membuaiku dalam gendongan dekat dengan dadanya. Hhhmmm… aroma aftershave dan parfumnya tercampur namun malah mengeluarkan wangi yang membuat jantungku berdegup kencang. Aku juga merasakan degup jantung Dong Hae di telingaku. Hahaha… batinku. Ia juga berdebar-debar sama sepertiku. Dong Hae menggendongku dan ia membawaku berjalan selama hampir 5 menit namun aku tidak tahu sesungguhnya jika waktu telah berjalan selama itu karena kehangatan tubuh Dong Hae membuatku merasa sangat nyaman hingga aku melupakan segalanya. Hanya keinginan agar waktu terhenti saat ini dan aku akan bisa bersama Dong Hae selamanya.

Dong Hae menurunkanku lalu mendudukkanku di suatu benda yang terasa agak dingin saat bersentuhan dengan kulitku. Ia membuka penutup mataku setelah kembali mengecup lembut keningku. Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mata karena silau dan saat aku bisa melihat dengan jelas, aku terbelalak dan langsung menutup mulutku…

‘Kuharap kau suka dengan kejutanku…’ seru Dong Hae menatapku penuh harap.

‘Oppa… oppa, tentu saja aku menyukainya.’ jawabku sambil menghambur ke dalam pelukannya. ‘Gamsahamnida, oppa… saranghae yongwonhi!!’

‘Yee, Soo-Ra… saranghae!!’ ujarnya yang kemudian mengecup lembut bibirku.

Dong Hae memang selalu seperti ini. Ia selalu bisa mengetahui dengan pasti apa keinginan terpendamku. Sama seperti saat ini. Dong Hae tahu jika aku memang menginginkan sarapan berdua dengannya di tepi pantai seperti ini. *Waktu itu Soo-Ra n Dong Hae nonton film drama n ternyata di bagian tengah film itu ada adegan dimana pasangan kekasih pemeran utamanya duduk berdua di pinggiran pantai dan sarapan bersama. *(mirip kayak Kkotboda Namja ya? hihihi8x…)*

Sebelum kami mulai makan, Dong Hae memberikanku buket bunga berukuran besar yang berisi mawar dan lily putih kesukaanku. Saat kami makan, ia bercerita tentang caranya mempersiapkan semua ini seorang diri. Bahkan makanan yang sedang kami santap ini juga merupakan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Hanya seorang temannya yang tinggal dekat pantai ini yang membantunya membereskan persiapan akhir seperti menata meja dan menempatkan keseluruhannya dengan baik serta menghangatkan makanan yang Dong Hae buat subuh tadi sementara ia pergi untuk menjemputku.

Ketika hari menjelang sore (skitar j2.30an), Dong Hae membawaku pergi meninggalkan pantai setelah sebelumnya kami bermain air dan berfoto berdua. Aku malah sempat tertidur sebentar dalam pelukannya saat kami beristirahat setelah puas bermain air.

Namun hari itu tidak langsung berakhir begitu saja karena ternyata Dong Hae membawaku ke sebuah taman bermain di pinggiran kota Seoul. Taman bermain itu sebenarnya sedang tertutup untuk umum karena sedang menjalani renovasi di beberapa wahana permainannya, namun Dong Hae berhasil membujuk pemilik taman bermain itu (yang ternyata adalah paman Dong Hae dari pihak ibunya) untuk membiarkannya dan aku bermain di wahana-wahana yang tidak sedang direnovasi.

Dong Hae mengajakku bermain BomBomCar, Merry Go Round dan juga beberapa permainan kecil lainnya. Saat kami berdua sudah mulai kelelahan, Dong Hae menarikku menaiki Bianglala raksasa di bagian tengah taman bermain itu.

Aneh, pikirku. Kenapa lampu-lampu di tempat ini belum ada yang menyala satupun ya, padahal hari sudah gelap sejak tadi. Tapi aku tidak mau memikirkan hal itu lebih jauh karena aku tetap merasa aman asal Dong Hae ada di sampingku.

Perlahan bianglala itu mulai berputar naik sambil membawa kapsul tempat kami duduk berdua menjauhi tanah. Aku memandangi cahaya-cahaya lampu di kejauhan dan merasa seakan aku sedang terbang. Saat tiba di bagian puncak, bianglala itu mendadak berhenti. Aku agak kaget dan sedikit takut sehingga aku memeluk Dong Hae yang duduk di hadapanku dengan erat. Dong Hae tertawa melihatku meringis ketakutan seperti itu.

‘Oppa… kenapa kita tiba-tiba berhenti sih?’ tanyaku dengan suara agak gemetar.

‘Tunggu dan lihatlah…’ ujarnya misterius sambil menunjuk ke sekeliling kegelapan malam. ‘3… 2… 1…. Sekarang!’

Pyaarrr… Pyaaarrr… lampu-lampu di seluruh taman bermain itu menyala bersamaan. Kilaunya yang berwarna warni memantul di wajah kami berdua.

‘Oppa…’

‘Shhttt… tunggulah sebentar lagi!’

Samar-samar terdengar suara petikan gitar dari kejauhan, namun perlahan suara itu terdengar semakin keras membahana ke seluruh area taman bermain ini. Lalu terdengar suara seorang lelaki yang sedang bersenandung. Lho, suara ini…

‘Oppa…’ seruku tertahan. Aku tidak bisa lagi berkata-kata saat mendengar suara itu mulai bernyanyi. ‘My Everything’ yang diiringi petikan gitar.

Aku terduduk diam dan memandangi Dong Hae dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dong Hae juga sedang menatapku dengan pandangan yang memancarkan ketulusan dan perasaan cinta yang amat dalam. Perlahan air mata mulai mengaliri pipiku. Tangan Dong Hae memegang erat jemariku dan menggenggamnya erat di dadanya tanpa pernah melepaskan pandangannya dariku.

Setelah lagu yang diputar dari pengeras suara itu berakhir, Dong Hae melepaskan kedua tanganku dari genggamannya. Ia mengambil sesuatu yang tersimpan agak tersembunyi di samping tempatnya duduk. Sebuah gitar yang langsung ia mainkan. Dong Hae bernyanyi lagi diiringi petikan gitarnya dihadapanku. Sebuah lagu yang langsung membuatku semakin terisak dan menangis lebih keras.

Love… oh baby my girl…

Geudaen na-e jonbu nun bushige

Areum da-un na-e shinbu shini jushin sonmul

Haengbok han gayo geudae-e kkaman nuneso nunmuri heureujyo

Kkaman mori pha ppuri dwelt tae kkaji do

Na-e sarang na-e geudae

Saranghal goseul na maengse halgeyo

Geudae reul sarang handa neun mal

Pyongsaeng mae-il haejugo shipho

Would u marry me?

Nol sarang hago akkimyo sara gago shipho

Geudae ga jama deul ttae mada

Nae phare jaewo jugo shipo

Would u marry me?

Iron na-e ma-eum horak hae jullae?

Pyongsaeng gyothe isseul ge (I do…)

Nol sarang haneun gol (I do…)

Nun gwa biga wado akkyo jumyon so (I do…)

Noreul jikhyo julke (my love…)

Hayan DRESS-eureul ibeun geudae

TUXEDO-reul ibeun na-e moseub

Balgoreum eul matchumyo gonneun uri jo dallim gwa byore I SWEAR

Gojitmal shiro euisim shiro sarang haneun na-e gongju

STAY WITH ME

Uriga na-ireul mogo do

Useumyo sara gago shipho

Would u marry me?

Na-e modeun nareul hamkke hae jullae?

Himdeulgo oryowodo (I do…)

Neul naega isseul ke (I do…)

Uri hamkke haneun maneun nal dongan (I do)

Mae-il gamsa halke (my love)

Orae jon butho noreul wihae junbi han

Nae sone bin naneun banji reul badajwo

Oneul gwa gatheun mameuro jigeum-e yaksok gi-ok halke

Would u marry me?

Pyongsaeng gathe isseul ke (I do…)

Nol sarang haneun gol (I do…)

Nun gwa biga wado akkyo jumyonso (I do…)

Noreul jikhyo julke (my love…)

Himdeulgo oryo wodo (I do…)

Neul naega isseul ke (I do…)

Uri hamkke haneun maneun nal dongan (I do…)

Mae-il gamsa halke (my love…)

Naega geudae-ege deuril goseun sarang bake opjyo

Geujo geu ppunin gol bojal gosopjyo

Sothullo bo-igo manhi bujok haedo

Na-e sarang na-e geudae jikhyo julkeyo

Hanja jiman yaksok hae jullae?

Museun il isso do uri soro sarang hagiro…

Geu ppuniya

Saat sampai di bagian akhir lagu, Dong Hae berhenti bernyanyi. Ia meletakan gitar yang tadi ia mainkan di tempatnya semula kemudian ia berlutut di hadapanku. Tangannya meraba saku jas yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ia genggam erat di samping tubuhnya.

‘Soo-Ra… nawa gyolhon hae jullae?’ tanya Dong Hae sambil meraih tanganku sedangkan tangannya yang sebelah lagi membuka tutup kotak itu dan memperlihatkan sepasang cincin kembar dengan pecahan berlian kecil di atasnya.

Aku benar-benar membeku di tempatku duduk. Dong Hae menatap tepat ke dalam mataku dan aku melihat jelas kesungguhan hatinya melakukan semua ini. Tak ada kata yang mampu menjelaskan seluruh perasaanku saat ini. Aku menghambur lagi dalam pelukannya. Aku memeluknya sambil terisak tak henti. Setelah merasa mampu untuk berbicara, aku membisikkan sesuatu di telinga Dong Hae kemudian menatapnya dengan penuh keyakinan.

Dong Hae langsung menarikku kedalam pelukannya begitu ia bisa mencerna kata-kata yang kuucapkan tadi. Jantungku berdebar begitu kencang seakan ia hendak mendobrak keluar dari dalam rongga dadaku.

Di tengah isak tangisku, Dong Hae mulai mengecup lembut bibirku. Ciuman yang terasa berbeda jika dibandingkan ciuman-ciuman yang pernah kami lakukan sebelumnya. Ciumannya ini begitu lembut dan perlahan masuk jauh ke dalam relung hatiku. Sama seperti air yang mengalir dengan tenang namun memiliki daya magis yang kuat menarikku semakin hanyut jatuh kedalamnya. Terlalu dalam untuk dirasakan besarnya kekuatan yang menarikku, namun jiwaku semakin merasa tenteram karenanya.

Kami berciuman lama sekali tanpa menyadari jika sebenarnya kapsul yang kami tempati itu tengah bergerak turun secara perlahan hingga akhirnya berhenti setelah tiba di bagian terbawah.

Pintu kapsul membuka perlahan tanpa kami sadari dan seseorang memandangi dengan perasaan agak kaget.

‘Ehhmmm… ehhhmmmm…’ kata suara itu. ‘Aduh kalian ini berhenti dong!!! Dasar, membuatku iri saja!’ kata suara itu mengejutkan.

Sontak kami berdua terkejut dan saling melepaskan diri. Saat aku menemukan sosok itu, aku terkejut…

‘Lho… Teukie-oppa? Kenapa kau bisa ada disini?’ tanyaku heran sekaligus malu karena terpergok sedang berciuman dengan Dong Hae. ‘Bukankah kau dan Hee-Chul sedang melakukan penelitian di Pulau Jeju?’

‘Tuh, tanya saja pada pacarmu… ‘ katanya tertawa sambil menunjuk Dong Hae.

Dong Hae tersenyum sangat bahagia lalu membungkuk dalam pada Teukie-oppa. ‘Hyeong… benar-benar terimakasih atas bantuanmu dan juga ijinmu untuk melamar Soo-Ra hari ini!! Aku berjanji pasti akan melindungi Soo-Ra walaupun aku harus mengorbankan nyawaku.’ ujarnya.

‘Jangan sungkan, Dong Hae-ya… Mulai kini kau akan selamanya menjadi adikku.’ jawab Teukie sambil menggosok-gosok hidungnya, tanda ia ingin menangis.

‘Soo-Ra… Dong Hae… Chukkae… Selamat ya atas pertunangan kalian!!!’ pekik beberapa teman Teukie dan Dong Hae yang ternyata ada disana membantu semua persiapan ini. Aku mengenali beberapa dari mereka yang datang. Ada Hee Chul-oppa dan juga Ha-Ae (Ha Ae sahabat Soo-Ra + pacar dari Hee Chul), Sung Min, dan Han Kyung serta beberapa lainnya yang aku tidak ingat namanya. Tiba-tiba dari arah utara taman bermain terdengar bunyi sesuatu meletus.

‘Hahaha… Tae Min agaknya benar-benar terlambat ya!! Anak itu memang ceroboh…’ ujar Teukie tertawa.

‘Eh, hyeong… apa aku perlu meneleponnya untuk segera kemari?’ tanya Sung Min sambil mengeluarkan handphone-nya.

‘Ya… panggil dia kemari dan katakan semuanya sudah selesai.’ ujar Teukie lagi.

Setelah semua orang yang membantu berkumpul, kami semua merayakan pertunanganku dan Dong Hae dengan makan bersama di sebuah kedai ramyun yang berada di dekat taman bermain. Hampir seluruh tempat duduk di kedai itu terisi dengan rombongan kami yang berjumlah hampir 15 orang. Teukie banyak memberikan candaannya – aku tahu ini ia lakukan untuk mengalihkan perhatiannya sendiri. Ia pasti sangat sedih karena aku akan segera menjalani hidup baruku dengan Dong Hae dalam beberapa bulan kedepan.

Kebahagiaanku kini lengkap sudah… Aku akan memiliki Dong Hae untuk selamanya (setelah kami menikah nanti); Teukie-oppa juga pasti akan menemukan mataharinya sendiri sebentar lagi sedangkan dari bisik-bisik yang kudengar, Hee Chul-oppa akan segera melamar Ha Ae.

Ahhh… ini hari paling sempurna dalam hidupku!! Kupandangi semua orang yang menyayangiku… Teukie-oppa, Hee Chul-oppa dan Ha Ae, dan orang yang paling kucintai ada bersamaku. Kupandangi jari manis tangan kiriku yang kini berhiaskan cincin lalu tersenyum. Dong Hae yang menemukanku sedang memandangi cincin pemberiannya itu lalu menarikku dalam pelukannya sambil berbisik… ‘Kau milikku selamanya…’

*****

– to be continued –

Hahahaha.. eotte?? Penasaran kah? Mau dilanjut tidak? Kalau mau dilanjut, tolong commet nya yaaa…

Gamsahae~~…

4 thoughts on “At Least I Still Have You – Part 2

  1. huwaaa sumpah chingu melongo aku bacanya si donghae bener2 iri,… reques ff dong cingu.. saya sama si key … wakaka .. pake nama ornella lee saja .. #plakk !
    ahahahah abis ff mu kerenn …
    si taemin nyempil .. huwaa coba si key ngelamar saya kaya gitu *melotot ke key*
    ayoo..ayoo… hwaiting *buat apa?* *buat apa ajah*

Leave A Comment !!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s